Rabu, 20 Oktober 2010

Askep

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN KELAINAN REFRAKSI

Kelainan RefraksiRefraksi adalah pembiasan sinar atau cahaya
Kemampuan mata untuk memfokuskan bayangan pada retina tergantung pada panjangsumbu mata dari depan kebelakang,kekuatan refraktif pada lensa
Masalah sumbu mata atau refraksi dapat mengakibatkan kesalahan refraksi
Kesalahan refraksi meliputi : Miopia,Hipermetropia,Presbiopia dan Astigmatisme

Miopia
Miopia ( penglihatan dekat atau rabun jauh ),kemampuan refraksi mata terlalu kuat
Sinar sejajar yang masuk kemata dlm keadan istirahat (tanpa akomodasi)akan dibiaskan membantu bayangan jatuh didepan retina atau makula lutea
Dibagi menjadi :
Miopia aksial (sumbu mata lebih panjang dari normal)
Miopia refraktif atau pembiasan karena indeks bias optik meningkat (sistem optik terlalu kuat)

ASSESMENT
SUBYEKTIF :
Mengeluh kabur melihat jauh
Mata cepat lelah
Pusing
Berair (astenovergen)
Seperti melihat benang at dilpg pandang pd miopia tinggi
oBYEKTIF
Bilik mata depan dalam
Bola mata lebih menonjol kedepan
Strabismus
Pupil melebar
Pada miopia tinggi fundus degenerasi retina
Pemeriksaan
Koreksi dengan lensa SPH (-)

Ditentukan visus masing-masing mata

Bila visus tidak normal bisa dikoreksi

Koreksi KM dengan terkecil/ terlemah yang menghasilkan visus yang bai
Hipermetropia
Hipermetropia adalah penglihatan jauh / rabun dekat

Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk kemata dalam keadaan istirahat akan dibias membentuk bayangan dibelakang retina

Penyebab
Sumbu bola mata pendek

Refraktif (daya pembiasan mata),terlalu lemah
Example : Lensa mata tipis

ASSESMENT
Subyektif :
Kabur utk melihat dekat
Sakit kepala
Mata cepat lelah
Sering berair
Mengantuk bila membaca( astenopia akomodatif)

Obyektif :
Bilik mata depan dangkal
Pupil kecil
Mata kelihatan merah
Pembagiannya :
Hipermetropia totalis :bl sebelum dikoreksi otot akomodasi dilumpuhkan dengan obat tetes mata ( sikloplegi mk hsl refraksikan akan membutuhkan lensa SPH (+) yg terkuat menghasilkan visus terbaik
Hipermetropia manifest :refraksi dgn lensa SPH (+) yg terkuat menghasilkan visus terbaik
Hipermetropia latent : dimana akomodasi masih aktif sehingga masih dikoreksi selisih dr HIP total & Hip Manifest
Pemeriksaan trial and error
Tentukan visus masing-masing mata
Koreksi dengan lensa SPH (+)
Anak kel pusing koreksi dgn sikloplegi
Koreksi kacamata dgn speris (+) terkuatyg bs mencapai penglihatan terbaik

Presbiopia
Adalah makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dgn makin meningkatnya umur
Pd akomodasi normal tjd daya refraksi mata krn adanya keseimbangan antara elastisitas lensa dan kapsul shg lensa menjadi lbh cembung
Fokus dibelakang retina
Presbiopia terjadi pada usia 30 dan 40 tahun keatas


Assesment
Mengeluh kesulitan membaca dekat huruf kecil
Mata mudah lelah
Berair
Sering merasa pedas
Menjauhkan obyek yg dibacanya
Penatalaksanaan
Diberi lensa korektif SPH (+) sesuai pedoman umur

40 th koreksi dgn SPH(+) 1.00

50 th koreksi dgn SPH(+) 2.00

60 th koreksi dgn SPH(+) 3.00



Astigmatisme
Astigmatisme terjadi jk kurvatura kornea tdk rata

Karena cahaya tidak direfraksikan sama pada satu arah,titik fokus retina tidak dicapai (dibiaskanlebih dari satu titik)
Intervensi pd kelainan refraksi
Non surgikal :
Kacamata yg lazim mengoreksi kesalahan refraksi
Keuntungan kacamata mudah dipakai lama,terjangkau,biaya rendah
Kerugian :perubahan penampilan fisik,frame,membebani hidung,pandangan perifer berkurang
Contact lensa
Contact lensa
mengoreksi kesalahan koreksi dgn merubah ukuran kornea,meningkatkan kemampuan refraksi dan dengan menempatkan daya refraksi dan ukuran tertentu yg diperlukan didepan mata sehingga cahaya difokuskan diretina
Komplikasi
Odema kornea,tjadi jika dipakai lama
Abrasi kornea
Kontak lensa lunak
Ukuran lbh besar ttp tetapi lebih toleransi pada lensa keras
Bentuk tebal dan dapat dipakai lebih lama,sifat hidrofilik lensa shg korne tetap basah dan cukup oksigen
Masalah kurang dapatnya perawatan lensa lunak
Intervensi surgical
Radial keratotomi
Prosedur operasi rawat jalan
Komplikasu kekeringan lensa
Scarring kornea
Under coreksion/koreksi error
Photo refraktif keratectomi (PRK)
Lasik ( laser in – situkeratomileusis)

Prosedur rawat jalan
Lokal anestesi 2 mata bisa dilakukan sekaligus
Penglihatan bisa kembali 1 jam post op sembuh komplit 4 minggu
Over / under koreksi
Komplikasi scarring kornea
Kekeringan kornea
LENSA KONTAK
Lensa kontak merupakan bentuk lain dari penatalaksanaan kelainan refraksi, terbuat dari plastik berbentuk bulat yang ditempatkan di depan kornea dan ditahan oleh kelopak mata.
Lensa kontak disesuaikan dengan mengukur bentuk kornea dan kekuatan refraksi yang dibutuhkan. Alat ini dapat dipakai sendiri oleh klien atau perawat.
Perawatan lensa kontak sangat diperlukan untuk mempertahankan oksigenasi kornea.
Setiap kali berkedip, air mata mengalir di bawah lensa untuk melembabkan kornea dan membersihakan kotoran.

RENPRA
1. DK : Penurunan persepsi sensori b.d
Tujuan : Klien dapat mengoptimalkan penglihatan dengan alat bantu yang sesuai
Intervensi :
- Berikan penjelasan penyebab terjadinya perubahan persepsi sensori
- Jelaskan prognosis untuk masing-masing kelainan refraksi
- Jelaskan prosedur koreksi dan perlunya mengikuti instruksi yang diberikan



- Beri masukan keuntungan dan kerugian dalam memilih alat bantu yang dikehendaki
- Jelaskan pentingnya menggunakan alat bantu yang sudah ditentukan selama melakukan aktifitas sehari hari
- Jelaskan cara perawatan alat bantu yang digunakan


2. DK : Gangguan citra diri b.d penggunaan alat bantu penglihatan
Tujuan : Klien dapat beradaptasi dengan penambahan alat bantu penglihatan
Intervensi :
- Fasilitasi klien untuk mengungkapkan perasaannya
- Libatkan keluarga dalam diskusi dan membantu penerimaan perubahan ketajaman penglihatan serta penggunaan alat bantu
- Berikan dorongan dan penghargaan terhadap bentuk penerimaan yang diekspresikan klien
HIPERMETROPIA

BATASAN
Kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang masuk ke mata dalam keadaan istirahat (tanpa akomodasi ) akan dibias membentuk bayangan di belakang retina




PATOFISIOLOGI
1.Hipermetropia aksial karena sumbu aksial mata lebih pendek dari normal
2.Hipermetropia kurvatura karena kurvatura kornea atau lensa lebih lemah dari normal
3.Hipermetropia indeks karena indeks bias mata lebih rendah dari normal

GEJALA KLINIS
1.Penglihatan jauh kabur, terutama pada hipermetropia 3 D atau lebih, hipermetropia pada orang tua dimana amplitude akomodasi menurun
2.Penglihatan dekat kabur lebih awal, terutama bila lelah, bahan cetakan kurang terang atau penerangan kurang
3.Sakit kepala terutama daerah frontal dan makin kuat pada penggunaan mata yang lama dan membaca dekat
4.Penglihatan tidak enak (asthenopia akomodatif=eye strain) terutama bila melihat pada jarak yang tetap dan diperlukan penglihatan jelas dalam waktu yang lama, misalnya menonton TV, dll
5.Mata sensitif terhadap sinar
6.Spasme akomodasi yang dapat menimbulkan pseudomiopia
7.Perasaan mata juling karena akomodasi yang berlebihan akan diikuti oleh konvergensi yang berlebihan pula

PEMBAGIAN
Berdasarkan besar kelainan refraksi, dibagi :
1. Hipermetropia ringan : ∫-0,25 s/d ∫-3,00
2. Hipermetropia sedang : ∫-3,25 s/d ∫-6,00
3. Hipermetropia berat : ∫-6,25 atau lebih

Berdasarkan kemampuan akomodasi, dibagi :
1.Hipermetropia laten : kelainan hipermetropik yang dapat dikoreksi dengan tonus otot siliaris secara fisiologis, di mana akomodasi masih aktif
2.Hipermetropia manifes,

dibagi :
a.Hipermetropia manifes fakultatif : kelainan hipermetropik yang dapat dikoreksi dengan akomodasi sekuatnya atau dengan lensa sferis positif
b.Hipermetropia manifes absolut : kelainan hipermetropik yang tidak dapat dikoreksi dengan akomodasi sekuatnya
3. Hipermetropia total :
Hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan sikloplegia

DIAGNOSIS/CARA PEMERIKSAAN
Refraksi Subyektif
Metoda ‘Trial and Error’
Jarak pemeriksaan 6 meter/ 5 meter/ 20 kaki
Digunakan kartu Snellen yang diletakkan setinggi mata penderita
Mata diperiksa satu persatu
Ditentukan visus / tajam penglihatan masing-masing mata
Bila visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sferis positif
Pada anak-anak dan remaja dengan visus 6/6 dan keluhan asthenopia akomodativa dilakukan tes sikloplegik, kemudian ditentukan koreksinya
Refraksi Obyektif
a.retinoskopi : dengan lensa kerja ∫+2.00, pemeriksa mengamati refleks fundus yang bergerak searah dengan arah gerakan retinoskop ( with movement), kemudian dikoreksi dengan lensa sferis positif sampai tercapai netralisasi
b.autorefraktometer (komputer)

PENATALAKSANAAN
1.Kacamata
Koreksi dengan lensa sferis positif terkuat yang menghasilkan tajam penglihatan terbaik


2.Lensa kontak
Untuk : anisometropia
Hipermetropia tinggi

KOMPLIKASI
1.Glaukoma sudut tertutup
2.Esotropia pada hipermetropia >2.0 D
3.Ambliopia terutama pada hipermetropia dan anisotropia. Hipermetropia merupakan penyebab tersering ambliopia pada anak dan bisa bilateral

http://exdeath-health.blogspot.com/2008/03/kelainan-refraksi.html

Askep Kelainan Refreaksi

a. PENGKAJIAN

1. ANAMNESIS
Data Demografi. Umur, miopia dan hipermetropia dapat terjadi pada semua umur sedangkan presbiopia timbul mulai umur 40 di tahun. Pekerjaan, perlu dikaji terutama pada pekerjaan yang mmerlukan penglihatan ekstra dan pada pekerjaan yang membutuhkan kontak dengan cahaya yang terlalu lama, seperti operator komputer, preparasi jam.
Keluhan yang dirasakan. Pandangan atau penglihatan kabur, kesulitan memfokuskan pandangan, epifora, pusing, sering lelah dan mengantuk, pada klien miopia terdapat astenopia astenovergen dan pada hiprmetropi terjadi asternovergen dan pada hipermetropi terjadi astenopia akomodasi yang menyebabkan klien lebih sering beristirahat.
Riwayat penyakit keluarga. Umumnya didapatkan riwayat penyakit diabetes melitus dan pada miopi aksialis di dapatkan faktor herediter.
Riwayat penyakit masa lalu. Pada miopi mungkin terdapat retinitis sentralis dan ablasioretina, sedangkan pada astigmatisma didapatkan riwayat keratokonus, keratoklobus dan keratektasia. Kaji pula adanya defisit vitamin A yang dapat mempengaruhi sel batang dan kerucut serta produksi akueus tumor dan kejernihan kornea.
2. PEMERIKSAAN
Presbiopia. Klien terlebih dahulu dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode “trial and error” hingga visus 6/6. Dengan menggunakan koreksi, jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensa speris positif dan diperiksa dengan menggunkan kartu jaeger pada jarak 30 cm.
Miopia. Refraksi subjektif, metode trial and error dengan menggunakan kartu snellen, mata di periksa satu per satu, ditentukan visus masing-masing mata, pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sfesis negatif, refraksi objektif, retonoskop dengan lensa S+2.00 pemeriksa mengawasi reaksi fndus yang bergerak berlawanan dengan gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sfesis negatif sampai tercapai netralisasi, autorefraktometer (komputer)
Hipermetropia. Refraksi subjektif, metode trial and error dengan menggunakan kartu snellen, mata diperiksa satu per satu ditentukan visus masing-masing mata, pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sfesis positif. Pada anak-anak dan remaja dengan visus 6/6 dan keluhan astenopia akomodatif dikoreksi dengan sikloplegik. Refraksi objektif, retinoskop dengan retina kerja S+2.00 pemeriksa mengawasi reaksi fundus yang bergerak berlawanan dengan gerakan retinoskop (againts movement) kemudian dikoreksi dengan sfesis positif sampai netralisasi, autorefraktometer (komputer).
Astigmatisma. Dasar pemerikasaan astigmatisma dengan tehnik fogging yaitu klien disuruh melihat gambaran kipas dan ditanya manakah garis yang paling jelas terlihat. Garis ini sesuai dengan meridian yang paling emetrop dan yang harus dikoreksi adalah aksis tegak lurus, derajat bidang meridian tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan kartu snellen.

b. DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan sensori-persepsi (visual) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retinsa.
Tujuan :
- Ketajaman Penglihatan klien meningkat dengan bantuan alat.
- Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap perubahan.

Intervensi :
- Jelaskan penyebab terjadinya gangguan penglihatan. Rasional : Pengetahuan tentang penyebab mengurangi kecemasan dan dalam tindakan keperawatan.
- Lakukan uji ketajaman penglihatan. Rasional : mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak / kacamata bantu atau operasi (keratotomi radikal), epikeratofakia, atau foto refraktif keratektomi (FRK) untuk miopia. Pada FRK, laser digunakan untuk mengangkat lapisan tipis dari kornea, sehingga dapat mengoreksi lingkungan kornea yang berlebihan yang mengganggu pemfokusan cahay yang tepat melalui lensa. Prosedur ini dilakukan kurang dari satu menit. Perbaikan visual tampak dalam 3-5 hari.

2. Gangguan rasa nyaman (pusing) yang berhubungan dengan usaha memfokuskan mata
Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Keluhan klien (pusing, mata lelah, berair, fotofobia,) berkurang / hilang.
- Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi.
Intervensi :
- Jelaskan penyebab pusing, mata lelah, berair, fotofobia. Rasional : mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
- Anjurkan agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktivitas membaca terus menerus. Rasional : mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
- Gunakan lampu/ penerangan yang cukup (dari atas dan belakang) saat membaca. Mengurangi silau dan akomodasi mata yang berlebihan.
- Kolaborasi : pemberian kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien.

3. Resiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Tujuan : tidak terjadi cedera
Kriteria Hasil :
- Klien dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami cedera.
- Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
- Jelaskan tentang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam penglihatan. Rasional : perubahan ketajaman penglihatan dan kedalaman persepsi dapat meningkatkan resiko cedera sampai klien belajar untuk mengompensasi.
- Beritahu klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas.
- Batasi aktivitas seperti mengendarai kendaraan pada malam hari. Rasional : mengurangi potensial bahaya karena penglihatan kabur.
- Gunakan kacamata koreksi / pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi untuk menghindari cedera.

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/ophthalmology/2039832-asuhan-keperawatan-kelainan-refraksi/

KELAINAN REFRAKSI

KELAINAN REFRAKSI
Definisi

Kelainan refraksi adalah keadaan bayangan tegas tidak dibentuk pada retina. Secara umum, terjadi ketidak seimbangan sistem penglihatan pada mata sehingga menghasilkan bayangan yang kabur. Sinar tidak dibiaskan tepat pada retina, tetapi dapat di depan atau di belakang retina dan tidak terletak pada satu titik fokus. Kelainan refraksi dapat diakibatkan terjadinya kelainan kelengkungan kornea dan lensa, perubahan indeks bias, dan kelainan panjang sumbu bola mata.

Ametropia adalah suatu keadaan mata dengan kelainan refraksi sehingga pada mata yang dalam keadaan istirahat memberikan fokus yang tidak terletak pada retina. Ametropia dapat ditemukan dalam bentuk kelainan miopia (rabun jauh), hipermetropia (rabun dekat), dan astigmat.
Akomodasi

Pada keadaan normal cahaya berasal dari jarak tak berhingga atau jauh akan terfokus pada retina, demikian pula bila benda jauh tersebut didekatkan, hal ini terjadi akibat adanya daya akomodasi lensa yang memfokuskan bayangan pada retina. Jika berakomodasi, maka benda pada jarak yang berbeda-beda akan terfokus pada retina. Akomodasi adalah kemampuan lensa di dalam mata untuk mencembung yang terjadi akibat kontraksi otot siliar. Akibat akomodasi, daya pembiasan lensa yang mencembung bertambah kuat. Kekuatan akan meningkat sesuai dengan kebutuhan, makin dekat benda makin kuat mata harus berakomodasi. Refleks akomodasi akan bangkit bila mata melihat kabur dan pada waktu melihat dekat. Bila benda terletak jauh bayangan akan terletak pada retina. Bila benda tersebut didekatkan maka bayangan akan bergeser ke belakang retina. Akibat benda ini didekatkan penglihatan menjadi kabur, maka mata akan berakomodasi dengan mencembungkan lensa. Kekuatan akomodasi ditentukan dengan satuan Dioptri (D), lensa 1 D mempunyai titik fokus pada jarak 1 meter.
Epidemiologi

Sekitar 148 juta atau 51% penduduk di Amerika Serikat memakai alat pengkoreksi gangguan refraksi, dengan penggunaan lensa kontak mencapai 34 juta orang. Angka kejadian rabun jauh meningkat sesuai dengan pertambahan usia. Jumlah penderita rabun jauh di Amerika Serikat berkisar 3% antara usia 5-7 tahun, 8% antara usia 8-10 tahun, 14% antara usia 11-12 tahun dan 25% antara usia 12-17 tahun. Pada etnis tertentu, peningkatan angka kejadian juga terjadi walaupun persentase tiap usia berbeda. Etnis Cina memiliki insiden rabun jauh lebih tinggi pada seluruh usia. Studi nasional Taiwan menemukan prevalensi sebanyak 12% pada usia 6 tahun dan 84 % pada usia 16-18 tahun. Angka yang sama juga dijumpai di Singapura dan Jepang.
Gejala

Penderita kelainan refraksi biasanya datang dengan keluhan sakit kepala terutama di daerah tengkuk atau dahi, mata berair, cepat mengantuk, mata terasa pedas, pegal pada bola mata, dan penglihatan kabur. Tajam penglihatan pasien kurang dari normal (6/6). Ametropia pada anak dapat mengakibatkan seperti penglihatan kabur dan juling.
Miopia

Miopia disebut rabun jauh karena berkurangnya kemampuan melihat jauh tapi dapat melihat dekat dengan lebih baik.Miopia terjadi jika kornea (terlalu cembung) dan lensa (kecembungan kuat) berkekuatan lebih atau bola mata terlalu panjang sehingga titik fokus yang dibiaskan di depan.
Miopia ditentukan dengan ukuran lensa negatif dalam Dioptri. Klasifikasi miopia antara lain:
ringan (3D), sedang (3 – 6D), berat (6 – 9D), dan sangat berat (>9D).

Gejala miopia antara lain penglihatan kabur melihat jauh dan hanya jelas pada jarak tertentu/dekat, selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda yang dilihat pada mata, gangguan dalam pekerjaan, dan jarang sakit kepala.

Koreksi mata miopia dengan memakai lensa minus/negatif ukuran teringan yang sesuai untuk mengurangi kekuatan daya pembiasan di dalam mata. Biasanya pengobatan dengan kaca mata dan lensa kontak. Pemakaian kaca mata dapat terjadi pengecilan ukuran benda yang dilihat, yaitu setiap -1D akan memberikan kesan pengecilan benda 2%. Pada keadaan tertentu, miopia dapat diatasi dengan pembedahan pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif,
Laser Asissted In situ Interlamelar Keratomilieusis(Las ik).
Hipermetropia
Hipermetropia adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi memfokuskan bayangan d

belakang retina. Hipermetropia terjadi jika kekuatan yang tidak sesuai antara panjang bola mata dan kekuatan pembiasan kornea dan lensa lemah sehingga titik fokus sinar terletak di belakang retina. Hal ini dapat disebabkan oleh penurunan panjang sumbu bola mata (hipermetropia aksial), seperti yang terjadi pada kelainan bawaan tertentu, atau penurunan indeks bias refraktif (hipermetropia
refraktif),
seperti
afakia
(tidak
mempunyai
lensa).

Pasien dengan hipermetropia mendapat kesukaran untuk melihat dekat akibat sukarnya berakomodasi. Bila hipermetropia lebih dari + 3.00 D maka penglihatan jauh juga akan terganggu. Pasien hipermetropia hingga + 2.00 D dengan usia muda atau 20 tahun masih dapat melihat jauh dan dekat tanpa kaca mata tanpa kesulitan, namun tidak demikian bila usia sudah 60 tahun. Keluhan akan bertambah dengan bertambahnya umur yang diakibatkan melemahnya otot siliar untuk akomodasi dan berkurangnya kekenyalan lensa. Pada perubahan usia, lensa berangsur-angsur tidak dapat memfokuskan bayangan pada retina sehingga akan lebih terletak di belakangnya. Sehingga diperlukan penambahan lensa positif atau konveks dengan bertambahnya usia. Pada anak usia 0-3 tahun hipermetropia akan bertambah sedikit yaitu 0-2.00 D.

Pada hipermetropia dirasakan sakit kepala terutama di dahi, silau, dan kadang juling atau melihat ganda. Kemudian pasien juga mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus-menerus harus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang retina. Pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas. Pada pasien yang banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama pada usia yang telah lanjut akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan tersebut berupa sakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan.

Mata dengan hipermetropia akan memerlukan lensa cembung atau konveks untuk mematahkan sinar lebih kuat kedalam mata. Koreksi hipermetropia adalah diberikan koreksi lensa positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kaca mata lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal.
Astigmatisma
Astigmata terjadi jika kornea dan lensa mempunyai permukaan yang rata atau tidak rata sehingga


tidak memberikan satu fokus titik api. Variasi kelengkungan kornea atau lensa mencegah sinar terfokus pada satu titik. Sebagian bayangan akan dapat terfokus pada bagian depan retina sedang sebagian lain sinar difokuskan di belakang retina. Akibatnya penglihatan akan terganggu. Mata dengan astigmatisme dapat dibandingkan dengan melihat melalui gelas dengan air yang bening. Bayangan yang terlihat dapat menjadi terlalu besar, kurus, terlalu lebar atau kabur.

Seseorang dengan astigmat akan memberikan keluhan : melihat jauh kabur sedang melihat dekat lebih baik, melihat ganda dengan satu atau kedua mata, melihat benda yang bulat menjadi lonjong, penglihatan akan kabur untuk jauh ataupun dekat, bentuk benda yang dilihat berubah, mengecilkan celah kelopak, sakit kepala, mata tegang dan pegal, mata dan fisik lelah. Koreksi mata astigmat adalah dengan memakai lensa dengan kedua kekuatan yang berbeda. Astigmat ringan tidak perlu diberi kaca mata.
Presbiopia

Presbiopia adalah perkembangan normal yang berhubungan dengan usia, yaitu akomodasi untuk melihat dekat perlahan-lahan berkurang. Presbiopia terjadi akibat penuaan lensa (lensa makin keras sehingga elastisitas berkurang) dan daya kontraksi otot akomodasi berkurang. Mata sukar berakomodasi karena lensa sukar memfokuskan sinar pada saat melihat dekat.

Gejala presbiopia biasanya timbul setelah berusia 40 tahun. Usia awal mula terjadinya tergantung kelainan refraksi sebelumnya, kedalaman fokus (ukuran pupil), kegiatan penglihatan pasien, dan lainnya. Gejalanya antara lain setelah membaca akan mengeluh mata lelah, berair, dan sering terasa pedas, membaca dengan menjauhkan kertas yang dibaca, gangguan pekerjaan terutama di malam hari, sering memerlukan sinar yang lebih terang untuk membaca. Koreksi dengan kaca mata bifokus untuk melihat jauh dan dekat. Untuk membantu kekurangan daya akomodasi dapat digunakan lensa positif. Pasien presbiopia diperlukan kaca mata baca atau tambahan untuk membaca dekat dengan kekuatan tertentu sesuai usia, yaitu: +1D untuk 40 tahun, +1,5D untuk 45 tahun, +2D untuk 50 tahun, +2,5D untuk 55 tahun, dan +3D untuk 60 tahun. Jarak baca biasanya 33cm, sehingga tambahan +3D adalah lensa positif terkuat yang dapat diberikan.
Pemeriksaan

Pemeriksaan refraksi terdiri dari 2 yaitu refraksi subyektif dan refraksi obyektif. Refraksi subyektif tergantung respon pasien untuk mendapatkan koreksi refraksi yang memberikan tajam penglihatan yang baik.

Refraksi obyektif dilakukan dengan retinoskopi. Mayoritas retinoskopi menggunakan sistem proyeksistreak yang dikembangkan oleh Copeland. Retinoskopi dilakukan saat akomodasi pasien relaksasi dan pasien disuruh melihat ke suatu benda pada jarak tertentu yang diperkirakan tidak membutuhkan daya akomodasi.

Idealnya, pemeriksaan kelainan refraksi dilakukan saat akomodasi mata pasien istirahat. Pemeriksaan mata sebaiknya dimulai pada anak sebelum usia 5 tahun. Pada usia 20 – 50 tahun dan mata tidak memperlihatkan kelainan, maka pemeriksaan mata perlu dilakukan setiap 1 – 2 tahun. Setelah usia 50 tahun, pemeriksaan mata dilakukan setiap tahun.
Terapi

Terapi meliputi edukasi mengenai kelainan refraksi, penggunaan kaca mata tidak menyembuhkan kelainan refraksi, meningkatkan jumlah asupan makanan yang mengandung vitamin A, B, dan C. Kebutuhan mengkoreksi kelainan refraksi tergantung gejala pasien dan kebutuhan penglihatan. Pasien dengan kelainan refraksi ringan dapat tidak membutuhkan koreksi. Koreksi kelainan refraksi bertujuan mendapatkan koreksi tajam penglihatan terbaik.

Kaca mata merupakan alat koreksi yang paling banyak dipergunakan karena mudah merawatnya dan murah. Lensa gelas dan plastik pada kaca mata atau lensa kontak akan mempengaruhi pengaliran sinar. Warna akan lebih kuat terlihat dengan mata telanjang dibanding dengan kaca mata. Lensa cekung kuat akan memberikan kesan pada benda yang dilihat menjadi lebih kecil, sedangkan lensa cembung akan memberikan kesan lebih besar. Keluhan memakai kaca mata diantaranya, kaca mata tidak selalu bersih,coating kaca mata mengurangkan kecerahan warna benda yang dilihat, mudah turun dari pangkal hidung, sakit pada telinga dan kepala.

Selain kacamata, lensa kontak juga alat koreksi yang cukup banyak dipergunakan. Lensa kontak merupakan lensa tipis yang diletakkan di dataran depan kornea untuk memperbaiki kelainan refraksi dan pengobatan. Lensa ini mempunyai diameter 8-10 mm, nyaman dipakai karena erapung pada kornea seperti kertas yang terapung pada air. Agar lensa kontak terapung baik pada permukaan kornea maka permukaan belakang berbentuk sama dengan permukaan kornea. Permukaan belakang lensa atau base curve dibuatsteep (cembung kuat),flat (agak datar) ataupun normal untuk dapat menempel secara longgar sesuai dengan kecembungan kornea. Perlekatan longgar ini akan memberikan kesempatan air mata dengan mudah masuk diantara lensa kontak dan kornea. Air mata ini diperlukan untuk membawa makanan seperti oksigen.
Pembesaran yang terjadi tidak banyak berbeda dibanding bayangan normal
1. Lapang pandangan menjadi lebih luas karena tidak banyak terdapat gangguan tepi
bingkai pada kaca mata.

Selain itu dapat pula dilakukan pembedahan. Salah satu terapi pembedahan yang cukup populer adalah dengan cara LASIK atau bedah dengan sinar laser. Pada lasik yang diangkat adalah bagian tipis dari permukaan kornea yang kemudian jaringan bawahnya dilaser. Pada lasik dapat terjadi hal-hal berikut : kelebihan koreksi, koreksi kurang, silau, infeksi kornea, ataupun kekeruhan pada kornea. Terapi bedah lain yang dapat dilakukan antara lain penanaman lensa buatan di depan lensa mata, pengangkatan lensa, radikal keratotomi dan Automated Lamelar
Keratoplasty(A LK ).
Pencegahan
Selama bertahun-tahun, banyak pengobatan yang dilakukan untuk mencegah atau memperlambat
progresi miopia, antara lain dengan:
o
Koreksi penglihatan dengan bantuan kacamata
o
Pemberian tetes mata atropin.
o
Menurunkan tekanan dalam bola mata.
o
Penggunaan lensa kontak kaku : memperlambat perburukan rabun dekat pada
anak.
o
Latihan penglihatan : kegiatan merubah fokus jauh – dekat

http://www.scribd.com/doc/28017970/KELAINAN-REFRAKSI

HIPERMETROPIA (MATA PLUS).

3. HIPERMETROPIA (MATA PLUS).

Berbeda dengan mata yang mengalalmi gangguan Miopia (Mata Minus), orang yang derita gangguan mata Hipermetropia (Mata Plus) masih bisa melihat benda yang jaraknya jauh dengan jelas tetapi sebaliknya melihat benda jarak dekat dengan tidak jelas. Karena itu penderita Hipermetropia (Mata Plus) mengalami kesulitan untuk membaca, menulis atau memasak jika tidak menggunakan kacamata. Kelainan mata Hipermetropia (Mata Plus) terjadi karena jarak antara kornea dan retina berkurang dari jarak normal 24 mm. Pada keadaan tersebut di atas kornea mata akan menerima sinar pada titik yang tepat sehingga penglihatannya sangat jelas.

Pada saat melihat jarak dekat, mata pada penderita mata plus tidak mampu untuk mengikat cahaya. Kemampuan refraktif pada mata tidak cukup. Pada retina penglihatan jadi tidak jelas. Sedangkan cahaya dari jarak jauh bisa di terima secara normal. Penderita hipermetropia bisa melihat jelas untuk jarak jauh, dan sebaliknya untuk jarak dekat tida bisa melihat dengan jelas. Ziliar yang berfungsi sebagai alat fokus pada lensa mata pada saat merubah dan penglihatan jauh ke penglihatan dekat lebih banyak mendapat beban jika penderita hipermetropia jarang bisa mengistirahatkan mata.

Untuk mediagnosis hipermetropia bisa berkonsultasi dengan dokter spesialis mata atau periksa di toko optik. Pada umumnya hipermetropia ringan bisa dikoreksi dengan kacamata. Sementara itu, untuk plus tinggi diperlukan operasi refraktif.

Dengan menggunkan tetes mata herbal keben, hipermetropia (mata plus) dapat menyembuhkannya secara total.


http://radixvitae.com/index.php?id=26&id_tipssehat=57

HIPERMETROPIA Mata hipermetropia / rabun dekat mempunyai kekuatan refraksi yang lemah, sinar sejajar yang dating dari obyek terletak jauh tak terhingga dibiaskan dibelakang retina. Berdasarkan struktur bola mata dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu : hipermetropia axial, hipermetropia kurvatura, hipermetropia indeks refraksi dan perubahan posisi lensa. Berdasarkan akomodasi hipermetropia dibedakan secara klinis menjadi : Hipermetropia manifest, hipermetropia manifest absolute, hipermetropia manifest fakultatif, hipermetropia laten dan hipermetropia total. Hipermetropia dapat dikenali dengan beberapa gejala sebagai berikut : 1. Biasanya pasien pada usia tua mengeluh pengelihatan jauh kabur. 2. Pengelihatan dekat lebih cepat buram. Akan lebih terasa pada keadaan kelelahan atau penerangan yang kurang. 3. Sakit kepala pada daerah frontal dan dipacu oleh kegiatan melihat dekat dalam jangka panjang. Jarang terjadi di pagi hari, cenderung terjadi setelah siang hari dan membaik spontan bila kegiatan melihat dekat dihentikan. 4. Eyestrain / ketegangan pada mata 5. Sensitif terhadap cahaya 6. Spasme akomodasi, yaitu terjadinya cramp . ciliaris diikuti pengelihatan buram intermiten. Hipermetropia dikoreksi penuh apabila disertai esophoria, apabila disertai strabismus konvergen dikoreksi total. Sebaliknya apabila disertai exoporia diberikan under koreksi.

HIPERMETROPIA


Mata hipermetropia / rabun dekat mempunyai kekuatan refraksi yang lemah, sinar sejajar yang dating dari obyek terletak jauh tak terhingga dibiaskan dibelakang retina. Berdasarkan struktur bola mata dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu : hipermetropia axial, hipermetropia kurvatura, hipermetropia indeks refraksi dan perubahan posisi lensa.
Berdasarkan akomodasi hipermetropia dibedakan secara klinis menjadi : Hipermetropia manifest, hipermetropia manifest absolute, hipermetropia manifest fakultatif, hipermetropia laten dan hipermetropia total.
Hipermetropia dapat dikenali dengan beberapa gejala sebagai berikut :
  1. Biasanya pasien pada usia tua mengeluh pengelihatan jauh kabur.
  2. Pengelihatan dekat lebih cepat buram. Akan lebih terasa pada keadaan kelelahan atau penerangan yang kurang.
  3. Sakit kepala pada daerah frontal dan dipacu oleh kegiatan melihat dekat dalam jangka panjang. Jarang terjadi di pagi hari, cenderung terjadi setelah siang hari dan membaik spontan bila kegiatan melihat dekat dihentikan.
  4. Eyestrain / ketegangan pada mata
  5. Sensitif terhadap cahaya
  6. Spasme akomodasi, yaitu terjadinya cramp . ciliaris diikuti pengelihatan buram intermiten.
Hipermetropia dikoreksi penuh apabila disertai esophoria, apabila disertai strabismus konvergen dikoreksi total. Sebaliknya apabila disertai exoporia diberikan under koreksi.
 
KELAINAN REFRAKSI MATA – HIPERMETROPIA (RABUN DEKAT)
Posted on July 21, 2010 by Yayan A.I| 1 Comment
0
0

i

Rate This

Quantcast

@Yayan A. Israr

Definisi

Rabun dekat atau dikenal dengan hipermetropi merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata, yang mana pada keadaan ini sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina (Ilyas, 2002). Hipermetrop terjadi apabila berkas sinar sejajar difokuskan di belakang retina (Ilyas, 2000).

Gambar. Pembentukan fokus pada mata Hipermetropia

Hipermetrop sebesar 2-3 dioptri biasa ditemukan pada bayi baru lahir yang akan bertambah pada tahun-tahun pertama namun akan berangsur-angsur berkurang hingga pada usia remaja menjadi emetrop. Hipermetrop pada anak-anak tidak perlu dikoreksi kecuali bila disertai dengan gangguan motor sensorik ataupun keluhan astenopia.(Vaughan, 2000)

Menurut mariamas (2002), mata dengan hipermetrop sering akan memperlihatkan ambliopia akibat mata tanpa akomodasi tidak pernah melihat obyek dengan baik dan jelas. Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetrop antara kedua mata, maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir ke arah temporal.

-

Etiologi

Hipermetrop dapat disebabkan oleh :

* Hipermetrop aksial : keadaan ini disebabkan sumbu mata yang lebih pendek dari keadaan normal
* Hipermetrop refraksi : kelainan ini karenan adanya bias mata yang kurang akibat komponen mata. Misalnya kelengkungan kornea yang kurang, lensa yang lebih tipis daripada orang normal, pada orang yang sudah dioperasi dimana lensa orang tersebut tidak ada lagi (afakia).

Pada penderita hipermetrop terjadi gejala sebagai berikut : (Ilyas, 2001)

1. Kabur waktu melihat dekat tetapi jelas saat melihat jauh
2. Keluhan astenopia antara lain sakit kepala
3. Kecenderungan penderita untuk menyempitkan mata saat melihat dekat.

-

Klasifikasi

Menurut Ilyas (2004), hipermetropia diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Hipermetropia manifes
2. Hipermetropia absolut

Hipermetrop yang tidak dapat diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh. Biasanya hipermetrop laten yang ada berakhir dengan hipermetrop absolut

Hipermetropia fakultatif

Kelainan hipermetrop yang dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun kacamata positif. Pasien yang hanya mempunyai hipermetrop fakultatif akan melihat normal tanpa kacamata yang bila diberikan penglihatan normal maka otot akomodasinya akan mendapat istirahat. Hipermetrop manifes yang masih memakai tenaga akomodasi disebut sebagai hipermetrop fakultatif.(Satradiwira, 1998)

Hipermetropia laten

Kelainan hipermetropia tanpa sikloplegia (obat yang melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetrop laten hanya dapat diukur bila diberikan sikloplegia. Makin muda makin besar komponen laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga hipermetrop laten menjadi hipermetrop fakultatif dan kemudian akan menjadi hipermentrop absolut. Hipermetrop laten sehari-hari diatasi pasien dengan akomodasi terus menerus, terutama bila pasien dengan usia muda dan daya akomodasi yang masih kuat. (marianas, 2002)

Hipermetrop total

Hipermetrop yang ukurannya didaptkan sesudah diberikan sikloplegia

-

Pemeriksaan Hipermetropia

Tujuan pemeriksaan hipermetrop untk memfokuskan bayangan dari jarak jauh tepat di retina dengan memasangkan lensa sferis plus dengan atau tanpa lensa silinder. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan dua cara. (Ilyas, 2000)

Secara subyektif

Dalam hal ini penderita aktif menyatakan lebih tegas atau lebih kabur huruf-huruf pada kartu uji snellen, baik cara coba-coba atau pengabutan (fogging)

Pemeriksaan obyektif

Dengan menggunakan alat-alat tertentu, ditentukan keadaan refraksi tanpa menanya pasien. Cara ini baik digunakan pada pasien yang kurang kooperatif dan anak-anak. Alat ini dapat juga dipakai untuk menilai ada atau tidaknya kekeruhan media dan ada tidaknya astigmatisme. (sastradiwira, 1998)

Salah satu alat yang dapat digunakan adalah oftalmoskop direk, gambar fundus yang dihasilkan akan tampak kabur bila pasien mengalami kelainan refraksi. Dengan cara memutar cakram yang berisi lensa dengan pelbagai ukuran pada oftalmoskop maka gambaran akan terlihat jelas dan kekuatan lensa yang memberikan gambaran fundus yang paling jelas adalah kelainan refraksi. (Vaughan et all, 2000)

-

Penanganan Hipermetrop

Penggunaan kacamata

Pada pasien dengan hipermetrop sebaiknya diberikan kacamata sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang memberikan pengihatan maksimal. Bila pasien dengan +3.0 ataupun dengan 3.25 memberikan tajampenglihatan 6/6, maka diberikan kacamata 3.25. Hal ini dilakukan untuk memberikan istirahat pada mata. Pada pasien dengan daya akomodasi masih sangat kuat atau pada anak-anak, maka pemeriksaan sebaiknya dilakukan dengan memberikan sikloplegia atau melumpuhkan otot akomodasi. Dengan melumpuhkan otot akomodasi maka pasien akan mendapatkan koreksi kacamata pada saat mata tersebut beristirahat. (Guyton, 1996)

Pemakaian lensa kontak

Lensa kontak merupakan lensa yang langsung ditempatkan pada kornea, dibuat dari badan ringan karena diameternya kecil bisa dibuat tipis (Ilyas, 2000). Keuntungan penggunaan lensa kontak ini adalah :

* Pada kelainan refraksi berat, penglihatan melalui lensa kontak praktis tidak berubah sedangkan dengan kacamata dengan lensa plus atau minus yang berat akan melihat semua lebih besar atau lebih kecil
* Dengan lensa kontak luas lapang pandang tidak berubah, sedang dengan kacamata lapangan pandang menciut
* Pandangan astigmatisme kornea kecil, pemakaian lensa kontak keras akan mengkoreksi astigmatisme.
* Perubahan besar bayangan sedikit
* Untuk kosmetik

Kerugian penggunaan lensa kontak :

* Mata lebih rentan terhadap infeksi apabila pemakaian kurang mengindahkan kebersihan atau karena lingkungan sekitar yang kurang bersih
* Lebih mudah terjadi erosi pada mata, terutama lensa kontak dipakai terlalu lama atau dipakai tidak teratur.

@Belibis A-17

Possibly related posts: (automatically generated)

* KELAINAK REFRAKSI MATA – MIOPIA (RABUN JAUH)
* KERATITIS PUNGTATA
* KENALI JENIS RABUN
* kesehatan mata

This entry was posted in Kedokteran and tagged kelainan refraksi, kelainan mata, visus, Hipermetropia, Hipermetrop, Mypermetropia, Rabun dekat. Bookmark the permalink.
← KELAINAN REFRAKSI MATA – MIOPIA (RABUN JAUH)
PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP RINITIS ALERGI (RA) →
One Response to KELAINAN REFRAKSI MATA – HIPERMETROPIA (RABUN DEKAT)

http://yayanakhyar.wordpress.com/2010/07/21/kelainan-refraksi-mata-hipermetropia-rabun-dekat/