Rabu, 20 Oktober 2010

Askep Kelainan Refreaksi

a. PENGKAJIAN

1. ANAMNESIS
Data Demografi. Umur, miopia dan hipermetropia dapat terjadi pada semua umur sedangkan presbiopia timbul mulai umur 40 di tahun. Pekerjaan, perlu dikaji terutama pada pekerjaan yang mmerlukan penglihatan ekstra dan pada pekerjaan yang membutuhkan kontak dengan cahaya yang terlalu lama, seperti operator komputer, preparasi jam.
Keluhan yang dirasakan. Pandangan atau penglihatan kabur, kesulitan memfokuskan pandangan, epifora, pusing, sering lelah dan mengantuk, pada klien miopia terdapat astenopia astenovergen dan pada hiprmetropi terjadi asternovergen dan pada hipermetropi terjadi astenopia akomodasi yang menyebabkan klien lebih sering beristirahat.
Riwayat penyakit keluarga. Umumnya didapatkan riwayat penyakit diabetes melitus dan pada miopi aksialis di dapatkan faktor herediter.
Riwayat penyakit masa lalu. Pada miopi mungkin terdapat retinitis sentralis dan ablasioretina, sedangkan pada astigmatisma didapatkan riwayat keratokonus, keratoklobus dan keratektasia. Kaji pula adanya defisit vitamin A yang dapat mempengaruhi sel batang dan kerucut serta produksi akueus tumor dan kejernihan kornea.
2. PEMERIKSAAN
Presbiopia. Klien terlebih dahulu dikoreksi penglihatan jauhnya dengan metode “trial and error” hingga visus 6/6. Dengan menggunakan koreksi, jauhnya kemudian secara binokuler ditambahkan lensa speris positif dan diperiksa dengan menggunkan kartu jaeger pada jarak 30 cm.
Miopia. Refraksi subjektif, metode trial and error dengan menggunakan kartu snellen, mata di periksa satu per satu, ditentukan visus masing-masing mata, pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sfesis negatif, refraksi objektif, retonoskop dengan lensa S+2.00 pemeriksa mengawasi reaksi fndus yang bergerak berlawanan dengan gerakan retinoskop (against movement) kemudian dikoreksi dengan lensa sfesis negatif sampai tercapai netralisasi, autorefraktometer (komputer)
Hipermetropia. Refraksi subjektif, metode trial and error dengan menggunakan kartu snellen, mata diperiksa satu per satu ditentukan visus masing-masing mata, pada dewasa dan visus tidak 6/6 dikoreksi dengan lensa sfesis positif. Pada anak-anak dan remaja dengan visus 6/6 dan keluhan astenopia akomodatif dikoreksi dengan sikloplegik. Refraksi objektif, retinoskop dengan retina kerja S+2.00 pemeriksa mengawasi reaksi fundus yang bergerak berlawanan dengan gerakan retinoskop (againts movement) kemudian dikoreksi dengan sfesis positif sampai netralisasi, autorefraktometer (komputer).
Astigmatisma. Dasar pemerikasaan astigmatisma dengan tehnik fogging yaitu klien disuruh melihat gambaran kipas dan ditanya manakah garis yang paling jelas terlihat. Garis ini sesuai dengan meridian yang paling emetrop dan yang harus dikoreksi adalah aksis tegak lurus, derajat bidang meridian tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan kartu snellen.

b. DIAGNOSIS DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan sensori-persepsi (visual) yang berhubungan dengan perubahan kemampuan memfokuskan sinar pada retinsa.
Tujuan :
- Ketajaman Penglihatan klien meningkat dengan bantuan alat.
- Klien mengenal gangguan sensori yang terjadi dan melakukan kompensasi terhadap perubahan.

Intervensi :
- Jelaskan penyebab terjadinya gangguan penglihatan. Rasional : Pengetahuan tentang penyebab mengurangi kecemasan dan dalam tindakan keperawatan.
- Lakukan uji ketajaman penglihatan. Rasional : mengetahui visus dasar klien dan perkembangannya setelah diberikan tindakan.
- Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian lensa kontak / kacamata bantu atau operasi (keratotomi radikal), epikeratofakia, atau foto refraktif keratektomi (FRK) untuk miopia. Pada FRK, laser digunakan untuk mengangkat lapisan tipis dari kornea, sehingga dapat mengoreksi lingkungan kornea yang berlebihan yang mengganggu pemfokusan cahay yang tepat melalui lensa. Prosedur ini dilakukan kurang dari satu menit. Perbaikan visual tampak dalam 3-5 hari.

2. Gangguan rasa nyaman (pusing) yang berhubungan dengan usaha memfokuskan mata
Tujuan : Rasa nyaman klien terpenuhi.
Kriteria hasil :
- Keluhan klien (pusing, mata lelah, berair, fotofobia,) berkurang / hilang.
- Klien mengenal gejala gangguan sensori dan dapat berkompensasi terhadap perubahan yang terjadi.
Intervensi :
- Jelaskan penyebab pusing, mata lelah, berair, fotofobia. Rasional : mengurangi kecemasan dan meningkatkan pengetahuan klien sehingga klien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
- Anjurkan agar klien cukup istirahat dan tidak melakukan aktivitas membaca terus menerus. Rasional : mengurangi kelelahan mata sehingga pusing berkurang.
- Gunakan lampu/ penerangan yang cukup (dari atas dan belakang) saat membaca. Mengurangi silau dan akomodasi mata yang berlebihan.
- Kolaborasi : pemberian kacamata untuk meningkatkan tajam penglihatan klien.

3. Resiko cedera yang berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Tujuan : tidak terjadi cedera
Kriteria Hasil :
- Klien dapat melakukan aktivitas tanpa mengalami cedera.
- Klien dapat mengidentifikasi potensial bahaya dalam lingkungan.
Intervensi :
- Jelaskan tentang kemungkinan yang terjadi akibat penurunan tajam penglihatan. Rasional : perubahan ketajaman penglihatan dan kedalaman persepsi dapat meningkatkan resiko cedera sampai klien belajar untuk mengompensasi.
- Beritahu klien agar lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas.
- Batasi aktivitas seperti mengendarai kendaraan pada malam hari. Rasional : mengurangi potensial bahaya karena penglihatan kabur.
- Gunakan kacamata koreksi / pertahankan perlindungan mata sesuai indikasi untuk menghindari cedera.

http://id.shvoong.com/medicine-and-health/ophthalmology/2039832-asuhan-keperawatan-kelainan-refraksi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar